Pantun Marwah dari DM Rurry Afriansyah untuk Kepri: Teguh Bermarwah Kini Mulai Pudar Dirusak Penjilat dan Mafia

Pantun Marwah dari Dato Megat (DM) Rurry Afriansyah
Dalam rangka 23 tahun Provinsi Kepulauan Riau, tokoh Melayu dan budayawan DM. Rurry menghadirkan pantun yang indah sekaligus menyiratkan keteguhan marwah Melayu:

Bukan batang sembarang batang
Batang kami si Pokok Ara
Bukan datang sembarang datang
Datang kami ‘nak bersuara

Untuk apa pergi muara
Untuk menebang sebatang kayu
Untuk apa kami bersuara
Untuk tegakkan marwah melayu

Bukan kayu sembarang kayu
Kayu kami si Kayu Jati
Bukan melayu sembarang Melayu
Melayu kami melayu sejati

Apa tanda si kayu Jati
Batangnya keras tidak bergetah
Apa tanda melayu sejati
Duduk berunding selesaikan masalah

Di balik keindahan rima, tersimpan pesan keteguhan: Melayu adalah tuan rumah yang ramah, namun tidak akan tinggal diam bila hak dan martabatnya diusik. Tidak pula selalu menerima jika marwah diinjak-injak. Pepatah menyebut: ”biar mati berputih tulang, jangan putih mata” artinya, lebih baik mati daripada menanggung malu.

Pesan untuk Indonesia dan Dunia
Pantun DM. Rurry menegaskan bahwa budaya Melayu Kepri bukan sekadar ornamen, melainkan sumber bahasa dan identitas bangsa. Menghormatinya berarti menjaga akar Indonesia sendiri.

Sebagai provinsi yang lahir terpisah dari Riau untuk mempercepat pembangunan dan memberi ruang bagi identitasnya, Kepri pantas dilihat bukan hanya sebagai kawasan ekonomi, tetapi juga pusat warisan budaya Melayu dunia.

Penutup
Pantun menghibur, mengajar, dan menyatukan. Dari pesisir Kepri ke panggung internasional, ia membawa pesan: Jaga marwah, jaga akar bangsa. Sayangnya para penguasa membiarkan marwah dijajah penjilat dan mafia.

Di ulang tahun ke-23 ini, pantun Dato’ Megat Rurry Afriansyah mengingatkan kita bahwa suara Melayu dari Kepri bukan sekadar pantun, melainkan panggilan untuk menghormati sejarah dan martabat. Menjunjung marwah, serta meng’haram’kan penguasa penjilat dan mafia.

Profil penulis: Monica Nathan, konsultan di bidang teknologi informasi. Hidup di dunia modern, tapi hatinya selalu kembali pada akar: Melayu dan Indonesia.

Penulis/Sumber : Monica Nathan
Editor : Red.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *