Melayu Dipuji di Istana Jakarta, Monica Nathan: Ironi ini Terlalu Jelas untuk Diabaikan

Nyaris tak ada. Padahal bahasa Indonesia lahir dari bahasa Melayu. Dipakai semua orang, tapi tak pernah diakui.

Di Istana, Melayu dipuji.
Di Museum, Melayu dihapus.
Di Batam, Melayu dipijak.

Cash lebih kuat dari hukum. Simbol budaya dijadikan kostum politik, tapi masyarakat adat ditinggalkan.

Dan bila dunia menyorot, citra Indonesia akan runtuh: dari bangsa kaya budaya jadi bangsa yang membiarkan mafia menginjak akar budayanya sendiri.

“Melayu bukan lemah. Melayu bukan hilang. Melayu adalah akar. Dan bangsa tanpa akar, akan tumbang,” kata Megat Rurry Afriansyah.

Oleh: Monica Nathan
Sumber : Rilis Hotel Purajaya
Editor : Red.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *